Kamis, 30 Desember 2010

Aku dan Gadis Itu (Bagian 1)

Sebuah percakapanku dengan ... diriku sendiri.

Ada seorang gadis di kaca itu. Dia menangis. Tapi dia tampak kuat.

"Hei kamu." sapanya.

"Apa? Siapa kamu?" tanyaku.

"Kamu bodoh."

"Ha? Oke. Aku tahu."

"Bodoh banget."

"Aku tahu! Jangan paksa aku marah! Kamu bahkan belum memberitahuku siapa dirimu."

"Kau akan tahu sendirinya. Sekarang jawab aku. Kamu nggak sadar apa, kamu habis ngapain?"

"Aku tahu ... bener bener tahu."

"Nggak! Kamu nggak tahu, dasar jahat!"

"AKU TAHU!"

Kaca itu pecah.

"AKU TAHU! Aku nggak seharusnya ngasih harapan kosong kayak gini. Aku tahu aku salah. AKU TAHU!"

"Lalu? Kamu mau apa? Heeeelloh! Kasihan ya kamu. Hidup ini nggak punya tombol restart."

"Mau apa kamu? Ini masalahku."

"Kamu itu aku. Aku ini kamu. Masalahmu masalahku."

"Diam kamu! Gausah bilang kalau kamu tahu semua masalahku!"

"Ini bukan aku atau kamu, ini tentang masalah itu! Mau sampai kapan kamu pura-pura? THAT WON'T WORK"

"Gausah ikut campur! Aku bisa atasi ini sendiri!"

"Sendiri?"

Gadis itu tertawa, masih dalam tangisannya.

"PATHETIC banget sih kamu jadi orang! Kamu bukan aku, kamu disana. Dalam kenyataan! Kamu nggak bisa terus-terusan pura-pura. Kenyataan bakalan marah sama kamu!"

Aku tersentak. Mencoba mencari kata untuk membalasnya.

"Tahu apa kamu tentang kenyataan? Ini duniaku. Kamu hanya seseorang dalam cermin. Hanya bayanganku. Kamu nggak pernah ngerasain apa yang terjadi padaku! Kamu nggak pernah ngerti susahnya hidup di Kenyataan!"

Air mataku mulai keluar, oh aku benci ini.

"Aku memang nggak pernah tahu rasanya jadi kamu. Aku memang nggak pernah ngerti sulitnya berhadapan dengan Kenyataan. Tapi toloh mengertilah? Tak mengertikah kamu, kenapa aku menangis?"

Aku menggelengkan kepala, ia meneruskan.

"Aku ini dirimu yang asli. Tiap kamu tersenyum aku yang merasakan pahitnya. Aku yang menangis! Karena apa? Senyumanmu itu palsu. Selalu ada sisi lain dari senyuman itu. Dan aku! Harus aku yang kena! Aku benci harus menangis."

Aku terdiam, benar benar tak bisa berkata apa-apa kali ini.

"Kamu juga harus tahu. Tiap kamu menangis aku puas. Bukan aku yang harus menangis. Aku puas karena kamu yang menangis. Aku puas karena kamu, walaupun hanya sejenak, bisa berhenti berpura-pura. Bisa jadi dirimu sesungguhnya. Aku tersenyum untuk tangisan itu."

Ia diam, lalu tersenyum seketika, melihat tetesan air mata yang kini mungkin sudah membuat wajahku jelek.

"Aku sungguh ... tidak tahu." kataku.

"Sekarang kamu tahu kan? Ayo kita hadapi ini bersama. Ini bukan masalahmu atau masalahku. Ini masalah kita. Kamu dan dirimu dalam Ketidak-nyataan ini."

Ak tersenyum. Ia tidak menangis. Tuhan, senyum ini asli. Aku kembali menangis dalam senyumku.

"Apa masalahmu?"

"Aku mengecewakan seseorang."

"Hahahahaha."

Ia tertawa, sedikit membuatku jengkel kali ini.

"Jangan tertawa. Apa aku harus menangis karena tawamu itu?"

"Buat apa! Haha, oke akan kuhentikan tawaku ini. Kamu tahu kenapa aku tertawa?"

"Nggak."

Aku merasa jadi orang paling bodoh, menghadapi gadis itu dan selalu menjawab tidak untuk tiap pertanyaannya.

"Aku tertawa untuk kebingunganmu. Aku, seperti yang kau lihat, senang sekali melihatmu bingung."

"Sialan. Apa maksudmu?"

Aku merengut.

"Karena saat kamu bingung itu lah, sebenarnya aku sudah memiliki pilihan. Dan saat kamu memilih sesuatu yang sama dengan yang kupilih, tawa ini selalu datang. Tawa puas."

"Aku benar-benar tak mengerti maksudmu. Ah sudahlah! Kamu mau membantuku? Kumohon."

"Aku tahu, aku tahu. Kamu ingin aku memberitahumu tentang pilihanku kan?"

"Ya, walau sesungguhnya aku masih nggak percaya kamu."

"Ha? Kamu nggak percaya aku? Aku ini dirimu sendiri. Bagaimana kamu bisa percaya orang lain kalau kamu bahkan nggak percaya sama dirimu sendiri?"

Gadis itu tertawa.

"Semakin lama kamu membuatku merasa semakin bodoh."

"Karena kamu memang bodoh."

"Berarti kamu juga."

"Aku nggak perlu jadi nggak bodoh di balik cermin ini, hahahaha. Tapi kamu? Kamu berhadapan dengan kenyataan dan tetap bodoh? Kamu merugi."

"Aku nggak tahu jalan pikiranmu. Sudah hentikan percakapan konyol ini. Cepatlah beritahu aku. Apa yang harus kulakukan!"

Gadis itu diam, kemudian menunjukkan beberapa cuplikan.

"Dari mana kau dapatkan itu?" tanyaku.

"Ini ingatanmu." jawabnya santai, jari telunjuknya menunjuk ke arah salah satu cuplikan, seakan berkata padaku, lihatlah.

Aku melihat cuplikan itu. Itu adalah saat-saat aku dekat dengan seseorang, yang sama sekali nggak kusangka kehadirannya di hidupku. Orang yang sekarang sedang kukecewakan. Miris melihatnya. Sungguh.

"Betapa mudahnya kau biarkan orang ini masuk dalam hidupmu. Kamu lemah." katanya.

"Mereka bilang aku harus move on. Apa salahnya kubiarkan dia masuk?"

"Kamu belum siap. Itu masalahnya.Kamu terus-terusan memaksakan dirimu. Harus melupakan mantanmu. Kamu kira itu gampang?"

"Nggak. Sama sekali nggak."

"Itu kamu tahu. Kenapa kamu maksa?"

"Aku nggak mau dibilang lemah sama mantanku itu. Aku kuat. Aku bisa."

"Kamu masih terlalu pagi untuk menyalakan lilin yang baru. Lilin kemarin malam saja masih kau simpan, bagaimana bisa digantikan?"

"Aku nggak paham sama sekali dengan perumpaanmu itu."

"Kalau masih ada rasa untuk seseorang di hatimu, seberapa keras kamu mencoba. Kamu nggak akan bisa. Kamu bodoh sih. Masa kamu sendiri nggak tahu, kalau lilin dalam hatimu itu nyalanya masih terang sekali!"

Aku terdiam. Gadis ini benar. Lilin itu masih menyala. Aku belum menemukan jalan untuk mematikannya. Bahkan, aku belum mau.

"Kau benar. Tapi kebenaran ini terlalu terlambat untuk dikatakan sekarang."

"Ingat, tak ada yang terlambat selama kamu masih bisa memulainya. Sekarang akuilah pada orang itu. Kamu nggak bisa maksain perasaanmu itu. Nggak perlu ada dua lilin."

"Tapi, aku pasti dianggap sangat kejam jika jujur padanya. Bukan hanya dia yang menganggapku begitu. Pasti semua orang!"

"Kamu takut dianggap begitu? DASAR LEMAH. Apa arti anggapan orang? Anggapan orang bisa bantu kamu sekarang? NGGAK.

Aku terdiam lagi, semakin merasa bodoh. Gadis ini lagi-lagi ternyata benar. Aku lemah.

"Aku ini cerminan dirimu, tapi disini, aku kuat. Semakin kamu berpura-pura semakin lemah kamu dan semakin kuat aku. Tapi untuk apa aku kuat? Tak ada yang harus kuhadapi. Sedangkan kamu? Banyak yang harus kamu hadapi. Mengertilah, ini semua untuk kamu dan cuma kamu. Sekarang jujurlah."

"Baiklah, capek harus berdebat denganmu. Aku mengerti."

Aku tersenyum, sedikit tertawa. Gadis itu tersenyum. Lalu hilang perlahan. Kaca remuk itu hanya menampilkan bayanganku. Bayangan biasaku. Bayanganku yang tadinya terlihat lemah sekali. Bayanganku yang membuka mulutnya dan berkata,

"Aku akan jujur. Aku nggak takut sama Kenyataan. Aku nggak takut anggapan orang. Hey diriku yang di dalam sana. Kalau kau datang lagi, aku akan buktikan padamu, aku nggak bodoh, aku nggak lemah. Tunggu itu."

Aku tersenyum lagi. Janji itu terlanjur kukatakan. Satu-satunya hal yang harus kulakukan, hanya jujur. Pada diriku sendiri dan pada orang itu. Maaf. Karena kepura-puraan yang kututupi selama ini. Maaf. Karena ketakutanku pada Kenyataan.

to be continued ...

Jumat, 24 Desember 2010

Lagu Penyemangat untuk Kalian :)

Together, together, together everyone
Together, together, come on lets have some fun
Together, were there for each other every time
Together together come on lets do this right

Here and now its time for celebration
I finally figured it out
That all our dreams have no limitations
That's what its all about

Everyone is special in their own way
We make each other strong
Were not the same
Were different in a good way
Together's where we belong

We're all here
and speaking out with one voice
we're going to rock the house
the party's on now everybody make some noise
come on scream and shout

We've arrived becuase we stuck together
Champions one and all

We're all in this together
Once we know
That we are
We're all stars
And we see that
We're all in this together
And it shows
When we stand
Hand in hand
Make our dreams come true

We're all in this together
When we reach
We can fly
Know inside
We can make it
We're all in this together
Once we see
Theres a chance
That we have
And we take it

ACOUSTIC BISAAA ! :D

#4 read this ☺

Kamis, 23 Desember 2010

Bffute!


Helloh :)

Beberapa hari lagi menjelang dua puluh enam desember, untuk saat ini, angka dua puluh enam itu angka keberuntungan. Angka menyenangkan. Dan di 26 kali ini, adalah setengah tahunnya kami bersahabat, aku dan mengong. Hahaha, indah (ngook)

*Siapa mengong? orang yang manggil aku bulan (lihat post sebelumnya).*

Ya, kami memutuskan bersahabat entah sejak kapan dan karena apa. Sedikit tidak jelas, tapi tak apalah. Daripada galau-galau kalau nantinya menjadi "lebih", mending sahabatan aja, ya nggak?

Dengan berjanji tak akan ada sesuatu "lebih", persahabatan ini dimulai, deal!

"... mendengar cerita sehari-hari,
yang wajar tapi tetap mengasyikkan ..."

26th June till end / bffute

best friend forever until the end (HAHAHA)

- RT -

#bulanlangit #oonmengong #ngakaknggulingngguling

Rabu, 22 Desember 2010

#3 read this ☺



Senin, 20 Desember 2010

#2 read this ☺

The Hardest Part of Living

Read this patiently ...

Allison Moorer

Children say that words will never harm you
Only sticks and stones will make you cry
But they'll grow up one day and
learn the real truth
When
the one they love says goodbye
I don't trust old sayings any longer
Most are
only decorated lies
Absence doesn't make the heart grow fonder
And
out of sight don't mean out of mind
The hardest part of living is loving
'Cause
loving turns to leaving every time
And the hardest part of leaving is living

Life is hard when love is so unkind
...

Yes, KIDS don't know how it feels when some words broke someone heart deeply. KIDS don't understand when someone they love said that unanswerable word, Goodbye. I've ever being kids and hatefully i love it. I love being innocent. But now *sigh* i'm growing older. I miss the time when i'm a KID.

Minggu, 19 Desember 2010

#1 read this ☺



Sabtu, 18 Desember 2010

Bukan Gombalan, kan?

Hahahahahaha

Malam minggu kelam, pertengkaran pertama terjadi. Aku disini, sumpek. Dia disana, nyumpeki (maaf).

Entah malam itu seperti dipojokkan. Entah malam itu seperti aku serba salah. Apapun yang kulakukan hanya akan memperparah keadaan. Dengan alasan konyol, masalah dimulai. Padahal aku hanya ingin membuatnya nyaman dan merasa senang disana, tanpa harus terbebani pikiran tentangku. Tanpa harus memikirkanku. Dan jujur, malam itu, aku juga tak ingin memikirkan apapun, termasuk kamu. Itu waktu untuk "bebas"!

Laki-laki, makhluk aneh menyebalkan. Kadang marah, 'kurang' diperhatikan. Kadang bosan 'terlalu' diperhatikan. Membingungkan. Benarkan?

Pertengkaran nggak penting malam itu berujung pada ... Sajak ini. Mungkin asli buatanya. Hahaaa.

Matahari, tahukah kau?
Ia punya senyum sehangat senyumanmu
Embun, sadarkah kau?
Ia punya mata sejernih matamu
Melati tahukah kau?
Ia punya hati seputih hatimu
Sinar wajahnya menyadarkanku,
betapa aku benar tak ingin melupakannya
Bahkan jika ku telah tiada di hatinya.
-wisun-

Aku hanya bisa tertawa.
...

Dad's Camera

... 18 Desember 2010 ...

Tebak apa? UTS aksel sudah selesai :D

Aku pulang dan menghabiskan hari di kamarku, ya ... laptop-ing tanpa tujuan pasti. Merasa bosan dan terganggu dengan suara tukang bangunan yang lagi ngebongkar bak mandiku, aku keluar. Mencari-cari sesuatu yang bisa kukerjakan. Ehem ... tanpa tujuan jelas aku turun ke lantai bawah, lewat depan kamar bapak dan tiiing! Aku dapat ide bagus :D

Aku masuk, kulihat lemari terbuka. Berusaha mencari sesuatu (bukan uang). Dan akhirnya mendapatkannya. Satu set kamera tua milik bapak :D

Aku kembali ke kamarku, kubuka tas kamera dan kukeluarkan isinya. Waahaaaa! :D slr yang lumayan bagus ! Seperti biasa, aku langsung mencobanya, asik yaaa! :D

this is it ... my dad's camera ...



fuuuuun ! :D

...tys...

Jumat, 17 Desember 2010

some inspirational quotes ! :))






thanks to Leilockheart :))

Kamis, 16 Desember 2010

Si Gendut

Ini khais, keponakanku. Lucu kan. Gendut ya. Pengen deh (?)


hihi, udah jadi tante :D

Aku Suka Ketidak-biasaan

Hari ini flat.

Hari ini nggak istimewa.

Hari ini biasa.

Tiga kalimat itu selalu terdengar menyebalkan, bahkan dibandingkan dengan "hari ini menyebalkan", apalagi dibandingkan dengan "hari ini menyenangkan". Kata-kata "biasa" justru malah bermakna tak biasa. "Biasa" menunjukkan tak ada yang istimewa. Dan bagiku tak istimewa itu salah. Mestinya hariku istimewa!

Tapi, apapun yang terjadi selalu membuat hariku "biasa". Hari ini pun sepertinya sama saja. Semua biasa. Dan timbul lah niat itu. Niat mengulang masa lalu alias niat bernostalgia. Selalu datang saat aku berpikir "yaaaah hidupku membosankan".

Kalian tahu? Kadang atau bahkan seringkali masa lalu menjadi waktu paling menyenangkan. Mungkin karena hanya hal indah saja yang terpikirkan. Tapi tidak untukku. Aku selalu menghabiskan waktu untuk mengulang hal yang sama sekali tidak menyenangkan. Karena dengan mengulang hal hal itu, aku sedikit lega. Karena aku bisa meyakinkan hatiku: Dulu ... hariku pernah nggak biasa. Aku tersenyum.

Dan kalian tahu? Senyum yang ada di wajahku saat kata-kata itu keluar, adalah senyum asli tanpa paksaan. Senyum yang biasanya kucari-cari karena entah belakangan ini ia bersembunyi. Senyum yang takut keluar. Senyum yang kurasakan ketidak-adaanya beberapa waktu belakangan ini. Senyum yang selama ini telah digantikan oleh fake smile manisku ini.

Mungkin kali ini, aku hanya ingin bercerita tentang betapa berharga masa laluku. Kebanyakan orang bilang, "masa lalu bukan untuk dikenang". Kata-kata itu tidak berlaku bagiku. Karena kuyakin, Masa lalu itu ada untuk dikenang, tetapi dalam batas kewajaran. Tapi aku (selama ini) selalu menyalah artikan "kewajaran itu". Sampai mana batas kewajaran itu? Can you tell me, puhlease?

Bicara tentang kenangan, terlalu banyak yang ingin kuceritakan tentangnya. Terlalu rumit, sampai takbisa dibedakan mana awal dan akhirnya. Terlalu menyerupai labirin. Tapi perlu kalian tahu, aku suka berada dalam labirin ini. Suka berada dalam kerumitan tiada ujung ini. Suka berada dalam sekelibatan masalah. Suka berada dalam kenangan saat hariku ... nggak biasa.

Aku suka mengingat. Bukan ingatan jangka pendek tentunya. Karena ingatan jangka panjangku lebih menyenangkan. Lebih banyak senyuman. Mengingatnya menjadikanku lebih senang lagi karena sekali lagi, kata kata itu keluar. HORE!

Hore aku pernah punya masalah!
Hore aku pernah menjadi nggak biasa!

Bodoh memang, menghiasi hari hari ke depan dengan ingatan masa lalu, tapi aku bersyukur punya itu. Ingatan itu memperingatkanku dalam melakukan sesuatu. Ketidak-biasaan yang kadang kala menjadi dejavu itu, mengikutiku. Menyenangkan :D

Sungguh, aku suka ketidak-biasaan itu. Aku suka keistimewaan masa laluku. Aku suka menjadi berarti. Aku suka dililit masalah. Aku suka berada dalam labirin masa laluku. :D

Jadi kini, tiap aku bangun dan membuka mata aku berharap, senyum... ingatan... hari istimewa... datanglah, hiasi hariku lagi...

a k u m a u h a r i k u n g g a k b i a s a y a t u h a n . . . !

...tys...

Jumat, 03 Desember 2010

hunting baju FTMS

FTMS tahun lalu, ternyata, bukan FTMS terakhir untuk kelasku, akselerasi stetsa angkatan satu. Kami mendapatkan kesempatan untuk mengikuti FTMS tahun ajaran ini yang ternyata dimajukan pada bulan Januari. Karena dimajukan itu lah, siswa kelas dua belas jadi diperbolehkan ikut. Tapi tema FTMS kali ini menggemparkan seisi sekolah! (lebay) Tema yang diangkat osis kali ini adalah 70's style alias mode tahun 70-an. Bisa kau bayangkan? o.O"

Kami kelabakan mencari ide bagaimana harus berkostum dan beraksesoris. Tahu sendiri kan mode tahun itu bagaimana? Memang sih kalau jaman dulu orang pede abis memakainya. Kalau sekarang? Jawab sendiri deh.

Akhirnya, setelah berulang kali mengambil jam pelajaran bahasa Indonesia, yang notabene selalu nganggur nggak penting, kita memutuskan bagaimana dan apa yang akan kita pakai di acara FTMS nanti. Dress tahun 70an yang super jadul, pleas banyak renda dimana-mana, motif kembang-kembang yang yaiks -_____-

Dan hari ini, saatnya hunting kostum! :D

Pertamanya kita coba ke segala tempat, dan masih nggak ada yang cocok. Wah menyebalkan. Sekarang dimana kita harus membeli pakaian seperti itu? -_____-

Beberapa toko terlewat, hanya masuk dan keluar. Tak ada yang pas. Yang kebesaran lah, yang kekecilan. Yang telalu pendek, bisa bisa dibunuh bu lilik. Ada juga yang terlalu panjang, bikin risih kalau jalan. hellyah kapan ketemunya?

ini contoh dress kependekan dan ... bukan style 70an -___-"

at dress room.jpg

so short.jpg




Akhirnya kita beranjak ke Variety, Malang Plaza. Banyak sekali baju jadul disana. Bagus? Iya. Mahal? Banget. Maklum, lagi pada nggak punya uang banyak. Haha. Akhirnya kami mencoba beberapa baju, yaaah lumayan memalukan karena hanya ambil-coba-kembalikan. Haha.

Setelah agak lama mencari tanpa hasil akhirnya aku putuska untuk kembali. Dan ternyata semua anak sudah berkumpul di rumah Wenis. Akhirnya langsung saja, aku dan Afifah pergi menyusul yang lain.

Di rumah Wenis, ada obral baju! Banyak sekali baju jadul milik tantenya yang dikeluarkan. Masih bagus walau tampak usang. Kami bergantian mencobanya. Haha. Seperti pesta ganti baju! :D

Anak laki-laki pun daang dan ikut nimbrung, mereka juga ganti baju. Tentunya terpisah dari tempat anak perempuan ganti. Setelah itu, masing-masing dari kita sudah mendapatkan baju yang pas. Walaupun pilihanku agak ... kebesaran. Nasib orang kurus yah -__-

Setelah itu kita berfoto-foto dengan masing-masing kostum, yahahhaha lucu, unik, asik :D

Ini beberapa contoh kostum kami :
shand.jpg

ipeh.jpg

aku .jpg


Nah ! JADI NGGAK SABAR NUNGGU FTMS :D

...tys...