Kamis, 17 Februari 2011

Aku dan Gadis Itu (Bagian 2)

Jadi orang itu jangan terlalu baik sama orang lain, nanti dibodohi...

Hari itu, aku entah bagaimana merasa dibodohi, aku beranjak ke depan cermin dan mencari-cari sosok gadis itu, sosok gadis yang kusalahkan. Karenanya-lah aku merasa sedemikian bodoh.

"Kemana kau? Semua berjalan tak sesuai yang kita harapkan. Semua salah! Salah!", kataku, mulai merasakan sesak.

"Salah? Apa maksudmu? Semua benar, tys." Ia tersenyum, senyum yang benar-benar tak kuharapkan kehadirannya.

Aku terdiam, mengingat kata-kata bayanganku ini, beberapa hari yang lalu ...

"Kamu juga harus tahu. Tiap kamu menangis aku puas. Bukan aku yang harus menangis. Aku puas karena kamu yang menangis. Aku puas karena kamu, walaupun hanya sejenak, bisa berhenti berpura-pura. Bisa jadi dirimu sesungguhnya. Aku tersenyum untuk tangisan itu"

Ia tersenyum. Ia senang? Tak adil, aku sakit. Sangat sakit.

"Aku tahu apa yang ada dipikiranmu." katanya, membuyarkan lamunan singkatku.

"Aku tahu, kau tahu segalanya tentangku, segalanya sampai hal terkecil yang kututupi." jawabku, dengan nada menuduh.

"Siapa bilang? Aku tak tahu kalau sejauh itu, hahaha." Tawanya pahit.

"Sudahlah, aku hanya ingin bilang, gara-gara saranmu itu aku semakin sakit. Kau menyuruhku untuk berhenti berpura-pura dan menjadi diriku, tapi apa?"

Ia tertawa, semakin puas malah.

"Kau yakin kau sudah sakit sekarang? Sekarang kau pikir, kalau menjadi dirimu sendiri sudah menyakitkan, kenapa harus jadi orang lain? Bisa saja lebih menyakitkan?"

Aku terdiam, kata-katanya biasa saja, tapi dalam dan penuh makna. Sungguh...

"Sekarang apa yang kau rasakan?" tanyanya.

"Terbodohi, entah olehmum entah oleh mereka."

"Oleh mereka."

"Bagaimana jika aku merasa lebih banyak terbodohi olehmu?"

"Kau berbohong."

Ia tersenyum dan lagi-lagi keadaan semacam itu membuatku menjadi orang bodoh, itulah sebabnya aku menyalahkannya atas semua hal "pembodohan" ini.

"Oke, oleh mereka. Mereka pandai sekali berpura-pura. Mereka mungkin puas melihatku begini. Mereka tak menganggapku ada. Mereka ..."

Entahlah, semakin ingin rasanya air mata ini keluar.

"Itulah yang kau dapat jika kau berpura-pura di awal. Kau dapat kepura-puraan yang lain. Puas?"

"JADI INI SALAHKU? SEMUA SALAHKU?"

"Menurutmu?"

"Kenapa kau ganti bertanya padaku? Aku bertanya duluan."

"Buang rasa egomu itu. Kau kira aku kotak kebenaran, yang kalau kau tanyai sesuatu selalu menjawab hal yang benar?"

"Tapi sebelum ini kau selalu benar, kau aku dan aku tahu kau mengerti aku sepenuhnya."

"Begini, rasakan sendiri. Benar tidaknya itu relatif. Semua pasti ada sisi salahnya."

"Mereka menjauh, semakin jauh dan jelas terlihat batas antara aku dan mereka. Mereka yang kumaksud ini adalah dia dan kawanannya. Kau tahu itu."

"Kau jujur demi tak menyakiti dia lebih jauh kan? Kau yakin sikapmu itu bijaksana kan? Kenapa kau masih berpikir ini semua salahmu?"

"ENTAHLAH! SEMUA TERASA LEBIH SAKIT SEKARANG! Ini bukan tentang lilin itu atau apa, lihat mereka! Mereka membuka panggung sandiwara sejelas mungkin, tanpa melibatkan bagian yang dulu selalu mereka libatkan. Apa maksudnya?"

"Coba cari tahu. Kau ingin kebenaran kan? Cari kebenaran itu. Ingat, berhentilah berpura-pura. Kau harusnya sadar, semakin hebat kau berpura-pura, semakin banyak saingan dalam kepura-puraan itu. INGAT."

"Aku harus apa? Bagaimana jika suatu hari nanti masalah datang dan akulah satu-satunya yang disalahkan? Mereka semua sama, seenaknya saja memulai sesuatu tanpa ada akhir yang jelas. Mereka kira aku angin lalu? Menyebalkan."

Aku menangis, semakin keras. Gadis itu hilang. Entahlah, mungkin ia malas mendengar ocehanku ini, atau mungkin ia pun ikut menangis, tapi tak ingin melihatkan tangisannya padaku. Entah.

Entah, rasanya semua sudah membodohiku, mereka dan juga diriku sendiri. Semakin bodoh saja rasanya. Ini bukan tentang perasaan suka, cinta atau apalah itu. Ini soal kepercayaan, kepercayaan mereka yang entah hilang atau memang tak pernah ada dari dulu, dan kepercayaanku yang baru saja mereka hilangkan. Ini tentang semua orang yang tiba-tiba hilang atau mungkin bersembunyi dalam kepura-puraan barunya, kepura-puraan yang entah rasanya seperti membalas kepura-puraanku. Aku kesal. Aku dibodohi. Kenapa semua berjalan diluar, bahkan bertolah belakang dari garis cerita yang sudah kubayangkan akan jadi seperti apa. Aku tahu, cerita hidup bukan hanya milikku, banyak orang yang mengisinya, tapi setidaknya, jika ini cerita hidupku, kenapa tidak membiarkanku memegang penanya, kenapa tidak membiarkanku menulisnya sesuai keinginanku, hmm... setidaknya sedikitlah mengarah ke apa yang kupikirkan. Maaf egois, aku sedang miris.

Dan hei kau, gadis dalam cermin, diriku yang lain, keluarlah lagi, ceritakan kenapa kau tiba-tiba pergi setelah mengatakan hal sedalam itu dan membuatku merasa begitu miris, kenapa?

...TYS...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar