Senin, 25 April 2011

Get Well Soon, Daddy.


Hello bloggers.
Ini bukan lagi post nggak penting. Di post ini aku minta sesuatu dari kalian. Aku minta doa kalian.

Dan disinilah aku. Ruang tunggu kamar operasi, RSU Dr. Saiful Anwar, Malang. Tapi semua bukan berawal disini, dan kuharap nggak berakhir disini.

Minggu, 14.30. Mama dapet sms dari bapak. Isinya aneh. Bener-bener aneh. "Jangan kemana-mana. Jangan ikut acara apa-apa. Jangan panik."

Bayangkan. Minggu-minggu sore yang santai dan secara tiba-tiba langsung berubah tegang. Siapa yang tak bingung kalau seseorang memberitahunya jangan panik? Malah panik yang iya.

Oke, kami panik. Satu jam setelah itu, keluargaku lalui dengan bingung dan takut. Tanpa kabar. Handphone bapak pun dinonaktifkan. Hmm... Pikiran-pikiran negatif pun bermunculan.

Lalu datang kabar kalau bapak ternyata kecelakaan di Pacitan. Sesek. Pacitan itu jauh. Kenapa harus disana. Ternyata waktu itu bapak sedang berada di ambulance, perjalanan ke Malang. Bapak tak segera memberitahu kami karena takut akan membuat kami terlalu khawatir dan membuat adikku, Panji yang besoknya akan mengikuti UN akan terusik pikirannya. Sungguh, nggak tau harus ngapain waktu itu.

Mama langsung menghubungi pakde dan minta diantar ke RSU. Aku, panji dan aris, adikku yang kecil, terpaksa harus menunggu di rumah. Aku jadi mama malam itu. Mengurusi anak kecil itu nggak gampang. Apalagi kalau anak kecil itu, Aris.

Malam itu sepi. Pikiran bercabang kemana-mana. Masalah perasaanku kemarin saja belum selesai, belum lagi yang ini. Dan lagi-lagi bisaku cuman nangis, nangis dan nangis. Nggak berguna. Malam itu kuhabiskan untuk menunggu mama pulang, tapi akhirnya aku tertidur.

Esoknya mama mengajak kami menjenguk bapak. Saat sarapan, aku sempat mencuri dengar. Mama dan Panji sedang membicarakan sesuatu. Kado. Ulang tahun. Dan aku tahu itu untuk siapa. Aku. Aku lagi-lagi ingin menangis rasanya.

Bapak telah lama merencanakan, ingin membelikanku sesuatu. Ia bahkan sudah memesannya. Entah apa itu. Padahal beberapa hari yang lalu, aku selalu mengelak jika disuruh. Aku pengen nangis, nangis, nangis.

Lalu dengan tidak menyiapkan apa-apa, kami langsung berangkat ke RSU Dr. Saiful Anwar Malang, untuk menemani bapak. Kamar bapak di lantai 4, Pavilyun Mawar. Kami mengunjunginya dan terenyuh. Bapak terduduk lemas di kasurnya. Aku bener-bener nggak bisa nahan air mata. Aku sembunyi di balik pintu, nangis dulu. Hmm.

Kami menunggu dokter spesialis tulang datang. Ya, bapakku mengalami fraktura, patah tulang pada bagian lengan kiri atas dan fisura, retak tulang pada kaki kanannya. Ngenes. Setahun yang lalu aku juga pernah mengalami sesuatu, juga berhubungan dengan tulang. Dislokasi sendi tepatnya. Sendi siku kiriku geser tahun lalu, dan perlu dua minggu menenteng tangan yang tak sepenuhnya berfungsi, operasi kecil, dan sebulan penuh membawa dan memakai gips di siku kiriku. Bukan hal yang menyenangkan. Aku nggak mau hal itu terulang dan kejadian sama bapak. Tapi ternyata hal itu harus terjadi.

Hari ini, bapak akan dioperasi jam tiga. Dan kami menunggu.

Dan disini-lah aku sekarang. Kuulangi, di ruang tunggu kamar operasi RSU Dr. Saiful Anwar. Menunggu. Dan sekarang kurang lima menit dari jam lima, waktu yang dijanjikan mereka (para ahli medis) untuk menyelesaikan operasi cangkok tulang bapak ini. Kami tegang.

Dokter belum menunjukkan tanda-tanda selesai. Tak ada tanda apapun operasi bakal selesai. Post kali ini, sungguh, ya Allah dan semua yang mungkin membaca post ini, aku minta doa kalian. Sembuhkan segera bapakku ya Allah. Sebentarkanlah masa-masa memakai alatnya. Tidak menyenangkan ya Allah. Benar-benar tidak.

Semoga bapak cepat sembuh, aku sayang bapak. (˘̩̩̩ʃƪ˘̩̩̩)

...Tys...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar